Jakarta, Newsline.id — Tren investasi di kalangan generasi muda Indonesia semakin menggeliat. Jika dulu investasi hanya identik dengan deposito atau tanah, kini pilihan semakin beragam mulai dari saham, reksa dana, hingga kripto yang digandrungi karena potensi cuan cepat.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor pasar modal Indonesia per Juni 2025 sudah menembus angka 13 juta single investor identification (SID), dengan mayoritas berasal dari kelompok usia di bawah 35 tahun. Angka ini naik hampir 20% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Generasi muda saat ini lebih melek literasi finansial, apalagi dengan dukungan teknologi yang membuat investasi hanya sejauh genggaman tangan,” ujar Andi Nugraha, analis pasar modal dari Indo Invest Research.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saham Masih Jadi Primadona
Meski banyak instrumen baru, saham tetap jadi pilihan utama. Pergerakan IHSG yang relatif stabil membuat investor ritel percaya diri menaruh dana, terutama pada saham sektor perbankan, energi terbarukan, dan teknologi.
Kripto, Si Paling Berisiko Tapi Menggiurkan
Tidak bisa dipungkiri, aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, hingga token memecoin semakin populer. Meski volatilitasnya tinggi, banyak anak muda berani masuk karena iming-iming profit cepat. “Kripto itu high risk high return. Tapi bagi anak muda, risiko itu justru jadi tantangan,” tambah Andi.
Reksa Dana dan Emas Tetap Dicari
Bagi yang lebih konservatif, reksa dana pasar uang dan emas tetap menarik. Reksa dana dinilai lebih aman karena dikelola manajer investasi, sementara emas tetap menjadi safe haven di tengah ketidakpastian global.
Tren ke Depan
Para pakar menilai, di tahun 2025 hingga 2026, tren investasi akan semakin dipengaruhi faktor global seperti suku bunga The Fed, stabilitas geopolitik, dan perkembangan regulasi kripto di Indonesia.
“Yang terpenting, generasi muda harus ingat bahwa investasi bukan hanya soal cuan instan, tapi juga soal manajemen risiko,” kata Andi.(**)









